Posted: Sep 16, 2013

Banyuwangi Melipat Jarak

Tahun 2010 lalu, kita warga Banyuwangi mencatat sejarah dengan diresmikannya Bandara Blimbingsari. Kita tahu keberadaan bandara ini merupakan hal yang sangat penting.
 
Dunia semakin datar dengan teknologi yang semakin berkembang. Infrastruktur transportasi menjadi salah satu alat penting untuk meningkatkan geliat ekonomi daerah. Aksesibilitas dan mobilitas masyarakat modern semakin tinggi, sehingga membutuhkan sarana untuk mendorong percepatan pengembangan wilayah.
 
Pada Abad Pertengahan, hampir seluruh manusia di Eropa percaya bahwa Bumi adalah satuan yang datar. Jika sebuah kapal terus menerus berlayar menuju horizon, niscaya ia akan jatuh ke dalam pinggiran dunia yang gelap. Terdapat jarak membentang di antara satu bagian Bumi dengan bagian lainnya.
 
Tapi kini jarak kini tak ubahnya hanya sebuah imaji yang relatif. Dahulu jarak tempuh Surabaya sebagai pusat perekonomian Indonesia Timur ke Banyuwangi bisa mencapai 8 jam melalui jalur darat. Kini, Surabaya-Banyuwangi bisa kita tempuh hanya dalam waktu 50 menit. Surabaya-Banyuwangi dan sebaliknya hanya seperti satu babak pertandingan sepak bola lebih lima menit. Belum selesai ngobrol dengan penumpang sebangku, sudah sampai kita di Banyuwangi.
 
Sejak masih aktif di Komisi V DPR RI, sebagai putra asli Banyuwangi, saya paham betul bahwa Banyuwangi membutuhkan bandara. Selama lima tahun saya berikhtiar dengan daya dan upaya yang saya miliki untuk meyakinkan pemerintah tentang pentingnya keberadaan bandara di Banyuwangi. Dua Menteri Perhubungan saat itu, Hatta Rajasa (kini Menko Perekonomian) dan Jusman Syafii Djamal (kini Komisaris Utama Telkom), saya ajak ke bandara. 
 
Ketika berikhtiar maju dalam Pilkada Banyuwangi, saya memasukkan pengoperasian bandara dalam program 100 hari. Begitu dilantik 21 Oktober 2010, didukung tim yang solid dan masyarakat luas Banyuwangi, kami langsung tancap gas. Infrastruktur memang menjadi prioritas utama kami sejak diberi kepercayaan memimpin Banyuwangi. Dengan infrastruktur yang memadai, kami berupaya mendekatkan Banyuwangi dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi nasional dan dunia.
 
Selama ini, hampir semua orang Banyuwangi adalah daerah yang kaya dengan sejuta potensi. Namun, jika tak ada jembatannya, potensi tersebut tak akan bisa didayagunakan untuk kesejahteraan rakyat. Kita sibuk berwacana tentang potensi Banyuwangi, tapi tidak ada injeksi baru untuk menggerakkan perekonomian di daerah. Karena itu, saya bersama tim Pemkab terus berupaya memecahkan masalah ini. Bandara menjadi salah satu solusi untuk menginjeksikan gairah baru bagi perekonomian lokal.
 
Alhamdulillah, hari bersejarah itu akhirnya datang. Pada 29 Desember 2010, bandara resmi beroperasi. Gubernur Jatim Soekarwo, Wagub Jatim Saifullah Yusuf, dan Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono hadir dalam kesempatan itu.
 
Bandara Blimbingsari merupakan bandara yang strategis karena lokasinya yang sangat dekat dengan Bali. Ditopang akses jalan yang baik dengan kota-kota di sekitarnya, Banyuwangi kini menjadi kota yang penting dalam kemajuan perekonomian Jawa Timur. Hal inilah yang menjadi pertimbangan bagi maskapai untuk menerbangi Banyuwangi.
 
Grand Caravan milik Sky Aviation menjadi maskapai pertama yang menggarap rute Banyuwangi. Dalam dunia bisnis, menumbuhkan kepercayaan adalah hal yang penting. Kami meyakinkan Grand Caravan untuk menerbangi Banyuwangi. 
 
Kini bandara di kota tercinta ini semakin ramai. Merpati Airlines menggarap rute Surabaya-Banyuwangi PP setiap hari. Hari ini warga Banyuwangi juga patut berbangga karena Wings Air/Lion Air mulai membuka rute Surabaya-Banyuwangi PP.
 
Merpati dan Wings Air akan terbang rutin setiap hari, sehingga diharapkan pebisnis atau pelancong yang hendak ke Banyuwangi tak perlu pusing memikirkan jadwal penerbangan yang tak jelas.
 
Dengan adanya dua maskapai itu, Banyuwangi sudah siap memasuki era baru transportasi yang efisien. Jika sebelumnya kota ini hanya bisa diakses melalui jalan darat seperti kereta dan bus, maka Wings Air bersama Merpati bisa menjadi pilihan lain yang lebih ringkas.

Spirit The Sunrise of Java
 
Penerbangan perdana Wings Air rute Banyuwangi-Surabaya PP ini semoga bisa menjadi salah satu pendorong kemajuan Banyuwangi. Inilah spirit ”The Sunrise of Java” yang sedang kita resapi bersama. Saat seluruh Jawa masih dalam kegelapan, kota di ujung timur Jawa yang kita banggakan ini telah menikmati cahaya pertama hari itu. Masyarakat Banyuwangi seolah bersinar dalam semangat kerja. Filosofi ini menggambarkan bahwa Banyuwangi bisa dan memang harus bisa menggapai hari esok yang lebih baik.
 
Tagline ini membawa semangat perubahan yang sangat masif. Dalam istilah yang diperkenalkan oleh pakar manajemen Rhenald Kasali, masyarakat Banyuwangi tengah bergerak dari fixed mindset menuju growth mindset.
 
Fixed mindset adalah manusia yang berpikiran tetap dan menolak perubahan karena dianggap mengganggu stabilitas yang ada. Namun, growth mindset berusaha mendobrak itu semua karena beranggapan perubahan adalah niscaya, harus dihadapi dan ditaklukkan.
 
The Sunrise of Java juga bukan perkara branding kota yang didasari pepesan kosong. Banyuwangi yang memiliki banyak pantai indah ini dikenal memiliki panorama alam yang sangat memikat. Sunrise yang lahir tak mesti dari pantai, namun juga dari berbagai destinasi alam lain seperti Kawah Ijen. Dalam setiap kesempatan bertemu tamu dari luar Banyuwangi, saya selalu katakan, untuk menikmati cahaya pertama di Jawa saya anjurkan Anda untuk datang dan melihat sendiri indahnya Banyuwangi.
 
Tentu saja ini juga berhubungan dengan keberadaan bandara. Hal ini adalah upaya masyarakat bersama Pemkab Banyuwangi untuk mengembangkan potensi diri. Tanpa bandara, potensi Banyuwangi hanya akan marak dalam diskusi. Padahal potensi itu bisa didayagunakan untuk kesejahteraan rakyat.
 
Peluang di masa depan sangat terbuka di mana seluruh warga Banyuwangi berkesempatan untuk berusaha dan bekerja. Kunjungan wisatawan bisa memberi manfaat besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Investasi baru akan membuat taraf hidup rakyat semakin meningkat.
 
Dengan adanya bandara, interaksi bisnis akan lebih lancar. Pengusaha di Glenmore, Muncar, Genteng, dan semuanya yang ada di kota ini tentu akan mudah dan cepat bertemu dengan relasi dari kota-kota besar. Jika selama ini perjanjian bisnis membutuhkan waktu lama karena jarak yang terbentang, kini semua itu bisa dilakukan dengan waktu singkat. Terbukanya akses juga akan membuka wawasan serta jaringan bisnis baru. Ujung-ujungnya, semua itu akan bermanfaat bagi rakyat: lapangan pekerjaan bertambah, kesejahteraan meningkat.
 
Selain bandara, pelabuhan akan diperbaiki. Infrastruktur jalan dibenahi. Sektor pariwisata ditingkatkan. Kemajuan sudah mulai terasa. Investasi masuk cukup deras. Penyaluran kredit perbankan (sebagai tanda bergairahnya ekonomi) tumbuh 33 persen per Juni 2012, jauh lebih tinggi ketimbang rata-rata pertumbuhan kredit nasional sebesar 25 persen.
 
Jangan khawatir, semua kemajuan yang kita raih bersama tidak akan meninggalkan potensi lokal yang dimiliki masyarakat Banyuwangi. Pemanfaatan potensi sumber daya manusia (SDM) lokal, sumber daya kelembagaan lokal, dan sumber daya alam lokal mesti dimaksimalkan. Saya tak main-main dengan upaya proteksi ekonomi rakyat. Pasar ritel modern telah kita larang masuk Banyuwangi agar pedagang pasar dan pahlawan ekonomi rakyat seperti Bu Siti di Pasar Glagah, Pak Parto di Pasar Kalipuro, atau Mbok Nah di Rogojampi bisa tetap eksis berjualan.
 
Ada banyak hal yang kemudian perlahan namun pasti berubah seiring bertambahnya intensitas pengunjung ke Banyuwangi. Kota ini akan menjadi melting plot di mana banyak identitas, pemikiran, dan modernitas bertemu. Kota ini akan terus maju dengan tetap menjaga identitas diri sebagai kota yang religius dan berkebudayaan kuat.
 
Tentu semua ini adalah hasil kerja keras semua lapisan masyarakat dan Pemkab Banyuwangi. Dukungan dan doa anak yatim, tokoh agama, dan semua lapisan masyarakat adalah energi yang luar biasa bagi kemajuan Banyuwangi.
 
Karena itu, ketika banyak SMS masuk ke ponsel saya dari sejumlah tokoh untuk memberikan selamat atas kemajuan Banyuwangi, saya merasa malu. Yang lebih berhak mendapat ucapan selamat adalah masyarakat dan jajaran Pemkab Banyuwangi, bukan saya sebagai bupati. Tugas saya hanya mendorong jajaran Pemkab Banyuwangi untuk bekerja lebih keras dan membuatnya lebih kompak dengan masyarakat.

1 Komentar

  1. Desember 12, 2013 at 16:39:06

    merinding membaca tulisan bapak bupati kita ini.... kami salut dengan bapak.... terima kasih,... ucapan ini tulus keluar dari hati kami rakyat banyuwangi... Bapak telah berusaha sekuat tenaga sampai titik keringat terakhir brusaha untuk memajukan kam

    Balas

Tinggalkan Komentar

Kami akan senang untuk mendapatkan komentar Anda. Luangkan waktu sejenak untuk komentar dan beritahu kami apa yang Anda pikirkan.

9 + 9 =