Posted: Sep 16, 2013

Ekowisata, Masa Depan Pariwisata Kita

Berbicara mengenai pariwisata di Indonesia, sama dengan menatap dua sisi mata uang. Di satu sisi, sektor ini semakin menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan BPS menyebutkan, pada 2012, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 8,04 juta, meningkat 5,16 persen dibanding 2011. Sektor pariwisata menyumbang devisa hingga USD 9,12 miliar pada 2012, tumbuh 6,62 persen dibanding posisi 2011. Sektor ini menyerap sedikitnya 9,7 juta tenaga kerja dengan kontribusi ke Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp 322,6 triliun atau 3,9 persen dari total PDB
 
Namun di sisi lain, perlahan muncul kejenuhan pada mass tourism atau pariwisata masal di Indonesia. Kejenuhan ini menuntut adanya bentuk pariwisata alternatif. Paradigma wisata sudah beralih dari mass tourism ke wisata minat khusus (special interest tourism). Dari sana, muncul konsep eco-tourism atau ekowisata. 

Konsep ekowisata sebenarnya sudah ada sejak 1987. Ketika itu, memang terjadi booming wisata masal yang berakibat destruktif pada banyak destinasi. Akibatnya, para konservasionis berteriak agar destinasi tak melulu dieksploitasi. Akhirnya muncullah rumusan ekowisata. Meski sudah ada sejak lama, ekowisata baru berkembang pesat di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
 
Ekowisata dapat diartikan sebagai bentuk wisata yang mendatangi tempat-tempat yang masih alami dengan tujuan khusus belajar, menghormati, dan menikmati pemandangan, tumbuhan dan binatang liar, serta budaya setempat (Ceballos-Lascurain, 1987). The International Ecotourism Society/TIES (1990) menyatakan, ekowisata adalah bentuk perjalanan bertanggung jawab mengunjungi tempat-tempat yang masih alami dengan menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat (TIES, 1990).
 
Ekowisata mendapat tempat tersendiri di antara berbagai jenis pariwisata lain. Ia dianggap sebagai win-win solution tourism. Sebelum ekowisata ada, pariwisata cenderung lebih mengutamakan aspek ekonomi untuk mengeruk laba sebesar-besarnya, sehingga mengabaikan keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat sekitar. Akibatnya, destinasi wisata yang dieksploitasi berlebihan mengalami kerusakan, baik secara lingkungan maupun sosial-budaya.

Ekowisata menjadi antitesis dari mass tourism semacam itu karena tak hanya bicara aspek ekonomi, tapi juga menekankan pentingnya menjaga alam dan memberdayakan masyarakat setempat demi terwujudnya pariwisata berkelanjutan.
Sejak dirumuskan pada akhir era 1990-an, ekowisata mengalami kemajuan pesat, terutama di negara-negara berkembang karena bisa menjadi pendorong pengentasan kemiskinan. Beberapa negara yang rajin menerapkan ekowisata adalah Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Indonesia. Indonesia sangat potensial sebagai destinasi ekowisata. Selain karena flora-faunanya yang beraneka ragam, Indonesia juga kaya budaya.
Visi Pariwisata Banyuwangi

Banyuwangi adalah salah satu kabupaten yang kini menggenjot penerapan ekowisata. Argumennya jelas: Banyuwangi mempunyai ”Segitiga Emas” dengan kekayaan wisata alam yang luar biasa, yaitu Kawah Ijen, Pantai Sukamade, dan Taman Nasional Alas Purwo. Perpaduan lengkap antara dataran tinggi, pantai, dan kawasan hutan dengan kekayaan flora dan fauna tak ternilai. Belum lagi potensi budaya masyarakat Using dan kawasan pesisir yang sangat luar biasa. Kesenian gandrung, seblang, hingga kebo-keboan memperkaya khazanah kebudayaan lokal Banyuwangi. Bisa dikatakan, Banyuwangi punya segala yang dibutuhkan untuk menggalakkan ekowisata.
Dalam Ecotourism: Principles, Practices, and Policies for Sustainaibility (2002), Megan Epler Wood menyatakan, terdapat sejumlah komponen ekowisata, yaitu konservasi lingkungan, edukatif, kesadaran berwisata pada semua elemen, serta menekankan partisipasi dan kesempatan bekerja bagi orang lokal. 

Berangkat dari pemahaman itulah, di Banyuwangi kami menerapkan empat kebijakan ekowisata. Pertama, pengelolaan destinasi dan daya tarik ekowisata. Destinasi-destinasi baru dimunculkan, seperti Pantai Pulau Merah yang akan dijadikan tempat kompetisi selancar internasional pada 24-26 Mei 2013. Akses ke tempat wisata juga diperbaiki. Banyuwangi tahun ini memperbaiki dan membangun sekitar 250 kilometer jalan, termasuk jalan ke destinasi wisata. Daya tarik ekowisata dikemas lewat perpaduan ekowisata dan sport-tourism seperti pelaksanaan kompetisi selancar internasional dan balap sepeda Tour de Ijen.

Kedua, standardisasi kompetensi SDM pariwisata. Pemkab Banyuwangi menyiapkan masyarakat sekitar dan pemandu wisata untuk menyambut wisatawan lokal dan mancanegara secara lebih profesional melalui kursus-kursus. 
Ketiga, pengembangan pariwisata berbasis teknologi informasi (TI). Pemasaran dilakukan melalui instrumen TI, mulai dari panduan destinasi secara elektronik hingga promosi melalui media sosial Facebook dan Twitter.

Keempat, pemberdayaan masyarakat dan UKM penunjang. Poin keempat ini adalah titik tekan kebijakan ekowisata Banyuwangi dengan visi community based tourism (pariwisata berbasis masyarakat). Kebijakan besarnya adalah mendorong interaksi antara masyarakat lokal dan wisatawan. Wisatawan yang datang ke destinasi wisata berbasis masyarakat akan menginap di rumah penduduk, mempelajari cara hidup mereka, dan makan makanan setempat.

Masyarakat lokal tidak hanya dijadikan sebagai obyek turistik belaka, melainkan sebagai ”tuan” bagi diri mereka sendiri, wirausahawan, penyedia jasa, sekaligus diberdayakan sebagai pekerja. Masyarakat lokal membuat kerajinan/suvenir, memasak kuliner khas lokal untuk dijual, menyediakan kamar untuk tempat menginap, mengajarkan budaya dan kearifan lokal, sekaligus belajar pada wisatawan tentang hal-hal baru. Hotel-hotel baru di Banyuwangi diwajibkan membuka ruang bagi masyarakat lokal untuk memasok kebutuhan alat mandi hingga bumbu masak.
Salah satu contoh sukses penerapan ekowisata adalah komunitas Posada Amazonas yang hidup di daerah Taman Nasional Tambopata, Peru. Mereka mengelola lahan, dan menawarkan ekspedisi melintasi hutan bagi wisatawan. Wisatawan diajak belajar cara hidup ala Indian Peru dengan berburu, memancing, hingga memotong pohon. Para wisatawan pun juga diajak menghargai alam.
Tentu saja kami menyadari, untuk menjadi daerah tujuan ideal ekowisata, masih banyak hal yang harus dibenahi. Antara lain soal aksesibilitas dan sarana penunjang. Ke depan, hal itu terus diperbaiki.

Pemasaran ekowisata Banyuwangi pelan tapi pasti terus ditingkatkan. Hasilnya mulai terasa. Kian banyak wisatawan yang berkunjung, ekonomi masyarakat pun meningkat lantaran kenaikan permintaan suvenir, makanan, dan sarana penunjang lainnya. 
Ekowisata adalah masa depan pariwisata kita. Bukan hanya bagi Banyuwangi, tapi juga bagi Indonesia.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Kami akan senang untuk mendapatkan komentar Anda. Luangkan waktu sejenak untuk komentar dan beritahu kami apa yang Anda pikirkan.

6 + 6 =