Posted: Sep 16, 2013

Mendongkrak Image Daerah melalui Pariwisata Even

Bagaimana identitas sebuah daerah bisa diangkat melalui pariwisata even? Amerika Serikat punya cerita menarik tentang ini. Pada 1969, festival musik Woodstock kali pertama diadakan di sebuah desa bernama White Lake di sebuah kota kecil bernama Bethel. Festival bertema ”3 Days of Peace & Music” ini dihadiri oleh kurang lebih 500.000 pengunjung yang menyerukan perdamaian dan menentang perang Vietnam. 

Saat festival itu usai, Desa White Lake mendadak menjadi destinasi wisata unggulan baru, terutama bagi penggemar musik. Padahal, sebelum Woodstock, nyaris tak ada yang peduli dengan desa yang terletak hanya beberapa puluh kilometer dari New York tersebut. Desa White Lake danWoodstock adalah sebuah contoh menarik bagaimana sebuah even pariwisata bisa membangun image suatu daerah.

Festival Rio Carnival juga menjadi salah satu bukti besarnya pengaruh pariwisata even. Karnaval yang diadakan di sepanjang jalan kota Rio de Janeiro, Brazil, ini bisa menyedot hingga 900.000 turis dalam tiap penyelenggaraannya. Dalam dokumen Plano de Turismo da Cidade do Rio de Janeiro (Perencanaan Pariwisata Kota Rio de Janeiro) disebutkan, ada peningkatan kegiatan ekonomi yang signifikan saat festival diadakan. Hunian hotel meningkat hingga 90 persen, dan festival ini memberikan 250.000 lapangan pekerjaan tambahan. Pada 2012, festival Rio menyumbangkan pendapatan sebesar 628 juta dollar pada ekonomi Brazil, meningkat 12 persen dari tahun sebelumnya. Karnaval terbesar di dunia ini juga menciptakan imej bagus bagi Rio de Janeiro yang sebelumnya terkenal sebagai kota dengan tingkat kriminalitas tinggi (OSAC, 2012).

Festival musik, karnaval, dan festival budaya lain adalah special event tourism yang berperan penting untuk mendongkrak sektor pariwisata di sebuah daerah.

Tentang Pariwisata Even

Pariwisata even adalah even yang bisa diadakan hanya satu kali atau even yang diadakan secara reguler, dan keduanya berkaitan erat dengan promosi dan pemasaran daerah (Jafari, 2000). Sejak beberapa dekade terakhir, jumlah festival dan special event meningkat dengan pesat, di mana hal ini memberikan kesempatan bagi penyelenggara even untuk membagi kebudayaan lokal mereka kepada pengunjung luar daerah.
Apa yang menarik dari pariwisata even seperti festival musik atau karnaval? Yang jelas pengunjung akan mendapatkan pengalaman yang unik dalam waktu bersamaan. Hal ini tentu disebabkan karena pariwisata even bukanlah atraksi wisata yang bisa dikunjungi dan ditonton tiap hari, melainkan diadakan di luar program wisata atau kegiatan wisata normal lainnya (Jafari, 2000).
Inggris dan Amerika Serikat adalah dua negara yang menjadi kiblat pariwisata even Inggris bahkan punya lembaga khusus bernama UK Music yang secara khusus menangani festival-festival musik. Secara berkala, lembaga pemerintah ini juga mengeluarkan booklet serba-serbi pariwisata musik.
 
Festival musik di Inggris tiap tahunnya dikunjungi 7,7 juta wisatawan. Turis itu membelanjakan 1,4 miliar poundsterling, di mana sebanyak 864 juta poundsterling masuk ke kas negara. Festival-festival musik ini juga memberikan pekerjaan penuh/paruh waktu kepada 19.700 orang (UK Music, 2010).
 
AS juga sudah dikenal lama sebagai negara yang punya banyak festival dan karnaval. Kota Los Angeles misalnya, mempunyai sekitar 350 festival yang rutin diadakan tiap tahun. Dinas Pariwisata kota itu secara rutin menerbitkan sebuah booklet digital yang berisikan jadwal acara, penjelasan tentang festival, peta acara, foto-foto yang menarik, dan panduan wisata seperti where to go, where to sleep, atau what to eat. Tak heran, banyak pengamat pariwisata mengatakan kalau Los Angeles adalah City of Carnival and Festival.
 
Menurut Boo dan Busser (2006), pariwisata even bisa memberikan tiga dampak utama kepada daerah dan komunitas lokal. Pertama, dampak ekonomi, di mana pendapatan suatu daerah dan komunitas meningkat seiring berdatangannya para wisatawan.
 
Kedua, peningkatan image suatu daerah, bukan hanya terhadap orang-orang luar daerah, tapi juga komunitas-komunitas lokal. Ketiga, sekaligus yang paling potensial adalah festival-festival bisa digunakan sebagai alat pemasaran penting untuk memperluas destination life-cycle, sehingga suatu daerah tidak hanya dikenal melalui satu atau dua destinasi wisata saja. Bahkan menurut Johnsen (2003), festival wisata yang diadakan pada masa off-season, akan membuat semakin banyak turis yang datang dan jadi loyal pada festival itu.
 
Upaya Banyuwangi
 
Indonesia sendiri punya beberapa contoh menarik tentang bagaimana sebuah pariwisata even bisa sangat berhasil dalam menarik pengunjung. Salah satunya adalah Festival Java Jazz kini telah menjadi ikon baru dunia pariwisata even di Indonesia. Pada 2012, festival jazz tersebut mampu menyedot 120 ribu pengunjung.
 
Pada 2010, festival ini mendapat rekor dunia sebagai festival jazz terbesar yang pernah diadakan, karena festival tersebut diisi oleh sekitar 1.300 musisi dengan 21 panggung dalam satu kawasan. Yang menarik juga adalah bagaimana image Jakarta tak lagi sekadar sebagai ibu kota negara yang terkenal dengan Ancol atau Taman Mini Indonesia Indah saja. Telah tercipta image baru: Jakarta kota penyelenggara festival jazz terbesar di dunia.
 
Banyuwangi, sebagai kota yang sudah dikenal lama dengan identitas seni-budayanya yang sangat kaya, kini juga terus berusaha mengemas kekayaan budaya ke dalam pariwisata even lewat ajang Banyuwangi Festival yang diselenggarakan September-Desember 2013. Tahun ini adalah perhelatan yang kedua dari Banyuwangi Festival. 
 
Banyuwangi Festival berikhtiar mendorong kombinasi aspek lokal dan global, unsur tradisional dan modern, sehingga menghasilkan daya kreasi seni-budaya yang unik dan memikat. Di antaranya lewat Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), Sewu Paju Gandrung, Banyuwangi Tour de Ijen, Banyuwangi Beach Jazz Festival, dan Festival Kuwung.
 
BEC, misalnya, tiap tahunnya mengusung budaya lokal yang telah lama menjadi bagian dari hidup dan kehidupan masyarakat Banyuwangi. Adapun Banyuwangi Beach Jazz Festival memadukan kesenian lokal dengan unsur jazz modern.
 
Desain kebijakan utama dalam Banyuwangi Festival sebagai sebuah pariwisata even adalah pemberdayaan masyarakat lokal (endogenous development policies). Ini tidak terlepas dari payung besar pariwisata berbasis masyarakat dengan mendorong keterlibatan komunitas setempat (community involvement) yang sedang dikembangkan Banyuwangi, baik dalam bentuk pariwisata even maupun alam.
 
Kebijakan berbasis pemberdayaan masyarakat lokal untuk pengembangan pariwisata ini didasarkan pada pemanfaatan potensi sumberdaya manusia lokal dan sumberdaya institusional lokal. Pendekatan ini memberi titik tekan pada pemberian prakarsa lokal (local initiatives) untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi daerah melalui pariwisata.
 
Banyuwangi Festival bertumpu pada SDM lokal, mulai dari aspek perencanaan, talent, hingga eksekusi. Sanggar-sanggar seni dilibatkan. Para pelajar dari seluruh penjuru Banyuwangi menjadi bagian utama pergelaran, sehingga mereka aktif mempelajari kesenian lokal. Hanya sebagian yang melibatkan SDM luar daerah, terutama musisi dalam ajang Banyuwangi Beach Jazz Festival dan peserta Banyuwangi Tour de Ijen. 
 
Sumberdaya institusional lokal, seperti perhimpunan anak muda, komunitas perempuan, hingga ormas juga dilibatkan agar pariwisata even yang dikreasi bisa sekaligus menjadi modal sosial untuk membangun kota ke arah yang lebih baik. Pembiayaan berbagai even dilakukan secara gotong-royong, sehingga tidak hanya bertumpu pada anggaran daerah.
 
Belajar dari pengalaman even tahun sebelumnya, tahun ini Banyuwangi melakukan persiapan jauh lebih matang, mulai dari teknis even, infrastruktur penunjang wisata, sampai saluran pemasaran. Melalui Banyuwangi Festival, kami ingin membuat hari biasa menjadi hari yang luar biasa bagi semua orang yang terlibat di dalamnya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Kami akan senang untuk mendapatkan komentar Anda. Luangkan waktu sejenak untuk komentar dan beritahu kami apa yang Anda pikirkan.

0 + 6 =