Posted: Sep 27, 2013

Memajukan Industri Kreatif Batik

 Perkembangan industri kreatif di Tanah Air cukup menjanjikan. Sektor ini telah menjadi primadona baru untuk meningkatkan taraf perekonomian.

Dalam berbagai bahasan, industri kreatif memang digadang-gadang sebagai gambaran bisnis yang prospektif. Di Business Week misalnya, Peter Coy menulis bahwa masa depan memang ada dalam genggaman ekonomi kreatif. ”Now the industrial economy is giving way to creative economy,” tulis Peter Coy.

Menariknya, Peter Coy menulis bahwa mereka yang gagap pada perubahan ini akan tergilas zaman, atau dalam bahasa Peter Coy disebut sebagai berada di persimpangan jalan yang lain (at another crossroads). Dalam hal ini, kekuatan ide dan daya kreasi menjadi modal dasar utama. Kecenderungan serupa juga terjadi hampir di semua sudut dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Pada 2012, industri kreatif nasional menyumbang 7% atau Rp574 triliun terhadap produk domestik bruto. Sektor ini menyerap 11,8 juta pekerja dengan 5,4 juta unit usaha. Industri kreatif sendiri terdiri atas 14 subsektor, yaitu periklanan; arsitektur; pasar barang seni; kerajinan; desain; fashion; video, film, dan fotografi; permainan interaktif; musik; seni pertunjukan; penerbitan dan percetakan; layanan komputer dan peranti lunak; televisi dan radio; dan riset dan pengembangannya. Fashion menjadi salah satu subsektor dengan kontribusi tinggi. Kontribusi industri ini ke PDB mencapai Rp164 triliun, dan mempunyai penyerapan 3,8 juta tenaga kerja.

Tantangan

Satu di antara industri fashion yang bergeliat di daerah adalah batik. Dari daerahdaerah seluruh Indonesia, ekspor batik mencapai USD 278 juta pada 2012. Periode Januari–Maret 2013, ekspor batik mencapai USD 50,07 juta, naik dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar USD 42,26 juta.

Sejak ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO, batik memang menjadi primadona. Sebagai produk budaya dan produk ekonomi, batik hadir mengiringi sejarah perjalanan bangsa. Batik bukan hanya sekadar komoditas fashion, tapi sudah bertemali dengan tradisi, gaya hidup, dan kehidupan sosial ekonomi warga. Geliat industri batik di daerah kini sangat menonjol.

Kewajiban sejumlah lembaga swasta dan pemerintah kepada karyawannya untuk memakai batik pada hari tertentu telah meningkatkan permintaan terhadap batik. Yang menyedihkan, sebagian potensi pasar domestik yang besar ini justru dipenuhi produk batik luar negeri. Produk batik dengan teknik cap dari China membanjir di pasar lokal, dan banyak dari kita yang tak tahu bahwa itu merupakan produk impor.

Karena itulah, potensi besar industri kreatif batik ini harus didukung kebijakan yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Industri batik mempunyai nilai tambah tinggi dengan pelibatan ribuan tenaga kerja, sehingga perhatian kepada industri ini sejatinya juga perhatian pada upaya peningkatan ekonomi rakyat.
Setidaknya terdapat empat tantangan yang harus diatasi untuk memperkuat kinerja industri kreatif batik. Pertama, dari hulu, kontinuitas pasokan bahan baku mutlak diperlukan. Harga bahan baku seperti kapas, pewarna alami, pewarna kimia, sutra, atau serat alam lainnya kerap fluktuatif. Harga kapas (yang lebih dari 95%-nya didatangkan dari impor) kini melonjak karena pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat.

Kenaikan harga kapas berimbas pada terkereknya produk turunan seperti benang dan kain. Problem ini harus diselesaikan dengan solusi lintas sektor, mulai dari aspek pertanian (untuk mencari solusi produksi kapas di dalam negeri dengan segala tantangannya), hingga aspek perdagangan dan fiskal (untuk kebijakan khusus sementara terkait impor bahan baku tekstil).

Jika persoalan bahan baku, mulai dari kapas hingga pewarna, bisa dipasok dari dalam negeri, nilai tambah industri batik bakal kian besar. Kedua, perlu manajemen sumber daya manusia yang terpadu agar ide-ide kreatif dan visioner bisa terus bermunculan untuk meningkatkan daya saing di pasar yang semakin kompetitif. Balai latihan kerja yang ada di daerah-daerah bisa dioptimalkan untuk menjawab tantangan ini.

Ketiga, dukungan fasilitas pembiayaan. Karena skala usahanya terbatas, masih banyak pelaku industri kreatif yang belum memenuhi persyaratan untuk mendapatkan pembiayaan perbankan. Perlu langkah bersama agar pelaku industri kreatif bisa mengakses pembiayaan lunak, seperti kredit usaha rakyat (KUR). Lembaga keuangan lain, seperti modal ventura daerah, wajib didorong untuk mendukung pengembangan ekonomi kreatif.

Keempat, di sisi hilir, pemasaran produk secara kreatif harus dilakukan secara berkelanjutan. Daerah-daerah perlu menerapkan cara-cara pemasaran kreatif antara lain melalui Festival Batik, seperti yang dilakukan di Banyuwangi melalui pergelaran Banyuwangi Batik Festival pada 26-28 September 2013.

Festival ini akan menampilkan ragam motif batik khas daerah Banyuwangi, seperti Gajah Uling, Kangkung Setingkes, Paras Gempal, dan Alas Kobong yang mempunyai filosofi dan cerita sejarah masing-masing. Kekuatan ide akan dieksplorasi melalui lomba pengembangan desain batik daerah.

Aksi massal berupa lomba mewarnai, desain, dan peragaan busana batik diharapkan menciptakan efek pemasaran berantai dari mulut ke mulut (word of mouth) yang sangat efektif. Festival batik semacam itu adalah wahana untuk melestarikan warisan budaya sekaligus menumbuhkan geliat usaha.

Bukan sekadar pajangan larik-larik kain, event semacam itu bisa dikemas menjadi pesta yang menemalikan hubungan antara batik, fashion, gaya hidup, sejarah, kearifan lokal, dan gerak ekonomi. Unsur intrinsik batik berupa kualitas produk bisa didukung unsur ekstrinsik berupa cerita sejarah dan model pemasaran yang kreatif.

Paduan unsur intrinsik dan ekstrinsik itu akan meningkatkan brand image batik, sehingga daya saingnya makin tinggi.

Semoga ke depan, industri kreatif batik tidak hanya kaya dari unsur kesejarahannya, tapi juga bisa digarap serius untuk memperkaya kehidupan ekonomi rakya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Kami akan senang untuk mendapatkan komentar Anda. Luangkan waktu sejenak untuk komentar dan beritahu kami apa yang Anda pikirkan.

2 + 6 =