Posted: Sep 16, 2013

Diaspora untuk Kemajuan Indonesia

Kongres II Diaspora Indonesia yang berlangsung tanggal 18-20 Agustus 2013 adalah sebuah momen yang sangat berharga. Saya beruntung diundang dalam acara yang digelar di Jakarta tersebut.

Kongres ini merupakan yang kedua. Kongres pertama digelar di Los Angeles, Amerika Serikat, tahun lalu.

Diaspora dalam kategori ini terdiri atas warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di luar negeri, WNI yang menjadi warga negara asing, dan warga luar negeri yang bersimpati serta mendukung kiprah Indonesia.

Kongres Diaspora II di Jakarta dihadiri hampir 4.000 WNI yang berada di luar negeri dan mereka yang memiliki pertalian darah dengan Indonesia. Dari data resmi Kementerian Luar Negeri disebutkan, jaringan Diaspora Indonesia sudah berdiri di 26 negara. Saat ini lebih dari 4,6 juta WNI berada di luar negeri, mulai dari Asia, Eropa, Afrika, hingga Amerika. Jaringan ini juga diperkuat oleh jutaan warga negara asing yang mempunyai pertalian dengan Indonesia, seperti di Suriname, Afrika Selatan, Madagaskar, dan sebagainya.

Banyak di antara diaspora Indonesia itu memegang posisi puncak di perusahaan kelas dunia, peneliti/akademisi berpengaruh, hingga tokoh-tokoh organisasi non-pemerintah (NGO).

Sungguh saya merasa beruntung bisa berada di tengah orang-orang hebat. Satu yang saya camkan untuk motivasi diri sendiri dan mungkin teman-teman sekalian adalah: orang besar lahir dari kesusahan, orang malas lahir dari kemudahan.

Berada di ruangan kongres itu, saya merasa ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari diaspora Indonesia. Yang jelas, para diaspora Indonesia itu bisa menularkan inspirasi bagi kemajuan daerah-daerah di seluruh Indonesia. Spirit membangun republik yang datang dari para diaspora bisa menjadi pemacu semua daerah untuk saling berkompetisi memajukan daerahnya masing-masing.

Kemajuan Indonesia sejatinya adalah representasi kemajuan daerah. Karena itu, sumberdaya manusia (SDM) daerah harus dimajukan untuk mendukung kemajuan daerah.

Kongres Diaspora harus menjadi jembatan bagi daerah untuk menjangkau pasar global dan mengambil spirit kemajuan global untuk kemajuan daerah.

The world is flat, kata Thomas L. Friedman. Dunia saat ini semakin datar. Kesempatan terbuka luas hingga ke kawasan global. Daerah harus menjadikan diaspora Indonesia sebagai jembatan, baik untuk pemasaran potensi produk daerah maupun peningkatan jaringan untuk meningkatkan kualitas SDM daerah. Ada peluang pemasaran UKM, beasiswa, dan sebagainya yang harus dimanfaatkan kita yang ada di Indonesia, khususnya di kota-kota menengah-kecil.

Global network ini harus ditransformasikan ke daerah, agar perspektif daerah berubah ke visi global. Muaranya adalah peningkatan kualitas hidup sosial dan ekonomi masyarakat.

Saya sendiri kagum dan terus berupaya mengambil sari pati dari para diaspora Indonesia tersebut. Spirit itu saya bawa pulang ke Banyuwangi, dan semoga bisa terus meningkatkan kobaran semangat untuk mengabdi demi kemajuan daerah dan kemajuan bangsa.
 
Sekarang, terinspirasi dari kongres ini, saya sedang menyusun konsep membangun "Banyuwangi Network". Mungkin istilahnya "Banyuwangi Minded". Orang Banyuwangi banyak tersebar di berbagai daerah, dalam dan luar negeri, tapi ada sebagian kontribusi mereka, dalam bentuk apa pun, yang tercurahkan untuk Banyuwangi. 

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Kami akan senang untuk mendapatkan komentar Anda. Luangkan waktu sejenak untuk komentar dan beritahu kami apa yang Anda pikirkan.

0 + 7 =